Selayang Pandang PSM

Yayasan Pendidikan Islam Pesantren Sabilil Muttaqien (YPI PSM) merupakan sebuah yang memiliki tujuan memancarkan pendidikan yang seluas-luasnya tentang agama Islam. Pesantren Sabilil Muttaqien didirikan tahun 1880 oleh seorang keturunan salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke timur. Dia adalah Kyai Hasan Ulama, yang merintis Pondok Takeran  yang kemudian menjadi cikal bakal Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM). Nama Takeran diambil dari sebuah desa sejauh 16 kilometer dari kota Kabupaten Magetan atau 9 kilometer dari arah kota Madiun.


Kyai Hasan Ulama’ wafat tahun 1920 M. Kemudian kepemimpinan pesantren diteruskan oleh Kyai Imam Muttaqien yang merupakan putera sulungnya Kyai Hasan Ulama’. Model pendidikanya pun masih bersifat tradisional murni sebagaimana model pendidikan di masa Kyai Hasan Ulama’. Beliau memimpin pondok hingga tahun 1936. Setelah Kyai Imam Muttaqien wafat, kepemimpinan pondok diteruskan oleh puteranya yang bernama Kyai Imam Mursyid Muttaqien.


Pada masa kepemimpinan beliau terjadi pembaharuan dan modernisasi, yang semula bernama pondok Takeran diganti menjadi Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) pada tanggal 16 September 1943. Model pendidikanya pun sudah selangkah menuju ke arah modernisasi, yakni memadukan sistem pendidikan tradisional dengan sistem yang modern, sehingga pada periode ini dikenal pendidikan dengan sistem “Kulliatul Muallimin” yang ditandai dengan munculnya lembaga pendidikan formal seperti sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah. Meskipun demikian, PSM masih tetap memegang tradisi tarekat Sathariyah sebagaimana halnya pondok Takeran.


Dewasa ini sebuah sistem pengelolaan pesantren lebih terbuka dan mulai dikenalkan pada khalayak umum, sehingga pesantren tidak hanya mengandalkan karisma/ketokohan figure, tetapi diperkuat dengan sistem yang terorganisir,  melalui sebuah perencanaan yang sistematis dan simultan. Maka sejak periode ini, PSM melalui alumni yang berasal dari berbagai daerah mendirikan cabang-cabang PSM, dengan pilar utamanya tetap berbasis pendidikan.


Dengan melalui metode pesantren dan pendidikan umum, saat ini naungan pesantren dan lembaga pendidikan umumnya telah berada di 99 daerah. Dimulai tingkat Tarbiyatul Athfal (setingkat TK), Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP), serta Madrasah Aliyah dan SMK.


Tahun 1977, PSM pernah memelopori aksi transmigrasi warga pesantren, yang disebut dengan istilah "Jebol Pesantren." Setiap rombongan transmigran (tahun 1977-1980 berhasil memberangkatkan 354 KK) selalu terdapat unsur kyai, pamong dan guru. Karena inisiatifnya itu, PSM mendapat penghargaan "Kalpataru" tahun 1986 dari pemerintah. Dalam menghadapi tantangan zaman YPI PSM terus melakukan inovasi, salah satu cabang terbarunya yang menjadi percontohan untuk program tahfidzul Qur’an telah berada di Ciamis, Jawa Barat. Selain itu dengan menggandeng lembaga pendidikan Irsyad Singapura bersama Temasek Foundation, YPI PSM mendirikan Islamic International School PSM (IIS PSM), yang merupakan sekolah bertaraf internasional di Magetan dan Kediri, Jawa Timur.

Tags
selayang pandang psm profile

Kirim Komentar




Sebelumnya

Khofifah Indar Parawansa Puji Motor Listrik karya Siswa Pesantren Sabilil Muttaqien

Selanjutnya

Mendikbud Kagum dengan Karya Siswa PSM

Artikel Terkait