ANTARA DOA DAN TAQDIR

1. Rasululloh SAW  senantiasa memohon perlindungan kepada Alloh swt  dari musibah yang berat. Karenanya, beliau mengajarkan kepada umatnya agar memohon perlindungan  dari musibah yang berat. Sebab, musibah yang terlalu berat dapat menggoyangkan iman seseorang. Terkadang, seseorang tanpa disadari dapat menjadi kufur. Berlindung kepada Alloh  agar tidak diuji dengan cobaan yang tidak sanggup kita pikul,  dengan membiasakan diri membaca do'a setiap selesai sholat fardhu. Semoga kita diselamatkan dari segala musibah dan bencana.  Dari Abu Huroiroh Radiallah Anhu, Rosululloh SAW  bersabda, "Berlindunglah kalian kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dari musibah yang berat, dari kecelakaan yang menimpa, dari ketentuan yang jelek, dan dari kejahatan musuh yang zhalim. Bacalah :  "Alloohumma innii a'uudzubika min juhdil balaa'i wa darokisy syifaa'i  wa suu'il qodhoo'i wa syamaatatil a'daa'i." ( Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari musibah yang berat, dari kecelakaan yang menimpa, dari ketentuan yang jelek, dan dari kejahatan musuh yang zhalim) (Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim).  

 

2. Doa dapat mengubah takdir. Karena agungnya fadilah (kemulian) dan rahmat terhadap hamba-hamba-Nya, Allah menjadikan pintu yang luas agar mereka dapat lari ke situ dalam mencari kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Alloh akan bukakan pintu doa dan menjadikannya sebagai penolak takdir dengan seizin-Nya. Ini bukan pendapat atau pengakuan seseorang, tetapi  diterangkan oleh Nash (dalil) hadits yang shohih  diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, bahwa Rasululloh saw bersabda : "Tidak ada yang dapat menolak takdir (ketentuan Alloh) kecuali doa dan tidak ada yg dapat menambah umur kecuali berbuat kebaikan". (HR. Tirmidzi dalam kitab sunannya). "Dan sesungguhnya seorang laki-laki akan diharamkan baginya rezeki karena dosa yang diperbuatnya" (HR. Ibnu Majah dalam kitab sunannya). Yang dimaksud kebaikan dalam hadits ini ialah bersedekah (bersodaqoh) dan bersilaturahmi sebagaimana dikuatkan oleh hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim, bahwa Rosululloh shollollohu bersabda, "Barangsiapa yang  menginginkan agar diluaskan rezekinya dan dilambatkan ajalnya, hendaklah ia bersilaturahmi".

 

3. Bila takdir telah ditetapkan, ajal pun telah dituliskan. Bagaimana ketetapan itu bisa diubah dengan doa dan silaturrahmi? Keduanya memang termasuk takdir. Tetapi, jika Allah berkehendak untuk menjauhkan keburukan dari hamba-Nya, melimpahkan kebaikan dari karunia-Nya, atau memanjangkan umur hamba-Nya, tidak ada yg mustahil. Allah pasti akan mengilhamkan kepada hamba-Nya. Faktor penyebab yg mengubah ketentuan-Nya (takdir) adalah perbuatan hamba-Nya sendiri dan Dia dapat memalingkan kepada yang dibenci-Nya dan memberikan kepada yang dicintai-Nya. Imam Syaukani dalam Kitab Tuhfatudz Dzakiriin mengatakan bahwa hadits tersebut mengisyaratkan, bahwa apa yang telah ditetapkan Allah SWT terhadap hamba-Nya dapat ditolak dengan doa. Banyak hadits yang menerangkan tentang hal ini, bahkan ditegaskan  dalam firman Alloh Swt :   'Yamhulloohu maa yasyaau wa yusbitu wa 'indahu ummul kitaabi' (Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (Apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)" (Qur'an Surat Ar-Ra'd 39).

 

4. Ketentuan takdir Alloh ada dua macam, yakni : 1). Takdir Maa Fii Lauhil Mahfuzh : takdir yg telah menjadi ketentuan Alloh yg dituliskan dalam daftar takdir di Lauhil Mahfuzh (tempat dituliskannya daftar takdir, daftar amal, wahyu Al-Qur'an (semacam papan tulis). 2) Takdir Maa Fii Ilmillah : ketentuan yg ada pada ilmunya Alloh yg qodim (yg dahulu tampa permulaan) dan ajali (tiada berawal dan tiada berakhir). Selain ketentuan Alloh yg Maa Fii Ilmillah, maka takdir itu dapatlah berubah dengan adanya permintaan dan doa dari  seorang hamba. Sebagaimana ditegaskan pada ayat di atas bahwa Alloh dapat saja menghapus atau menetapkan sesuatu yg ditetapkan-Nya dalam daftar di Lauhil Mahfuzh. Rasulullah SAW bersabda,  'Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara yang menyelamatkan kalian dari musuh kalian dan mempercepat datangnya rezeki kalian ? '(Rasulullah melanjutkan), "Maka berdoalah pada tengah malam dan pada siang hari, sebab hanya doa yang menjadi  senjata ampuh orang beriman" (HR. Abu Ya'la dari Jabir bin Abdulloh, dalam kitab Majma'ul Jawaa'id, Bab Tholabud Doa).

Demikianlah mamfaat doa, dapat menyelamatkan kita dari musuh sebagaimana di atas dan membuka pintu rezeki. Akankah Alloh menolak permintaan hamba-Nya yg setiap malam melakukan qiamul lail (sholat malam) dan berdoa kepada-Nya? Yakinlah bahwa setiap sesuatu telah ada qadha' dan qadarnya. Inilah aqidah pemeluk agama Islam, pengikut ajaran Rosul pembawa petunjuk, Muhammad Sollollohu Alaihi wa Sallam, yang intinya mengajarkan bahwa tiada sesuatu pun yang terjadi di semesta alam ini, melainkan berdasarkan pengetahuan Alloh, izin, dan ketetapan taqdir-Nya. Alloh berfirman : "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh" (QS.57:22). Allah berfirman : "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya masing-masing."(QS.54:49). Alloh berfirman : "Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan; dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."(QS.2:155). Dalam sebuah Hadits riwayat Bukhori - Muslim,  disebutkan: "Sungguh menakjubkan perihal orang mukmin itu, Sesungguhnya semua perihalnya adalah baik baginya dan yang demikian itu tidak didapati dalam diri siapa pun, kecuali dalam diri orang mukmin, Jika mendapat kesenangan, dia bersyukur; dan bersyukur itu adalah baik baginya; dan jika mengalami musibah, dia bersabar; dan bersabar itu adalah baik baginya."

Dalam Hadits yang lain disebutkan bahwa Rasul SAW pernah bersabda : "Bila kalian memohon, mohonlah kepada Allah; bila kalian minta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat manusia bersatu-padu untuk memberikan manfaat kepada kalian dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat memberi kalian mamfaat, kecuali  dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian; dan seandainya mereka bersatu-padu untuk menimpakan bahaya terhadap kalian dengan sesuatu, niscaya mereka tidak dapat membahayakan kalian, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alloh atas diri kalian, karena qalam telah diangkat dan lembaran catatan taqdir telah mengering". Dalam Hadits shahih telah disebutkan pula : "Ketahuilah bahwa apa pun yang menimpa dirimu bukanlah karena hal itu nyasar menimpa dirimu dan apa pun yang luput darimu karena memang hal itu bukan diarahkan kepadamu.". Rasulullah juga  bersabda kepada Abu Hurairah : "Hai Abu Hurairah, pena taqdir telah mencatat semua yang bakal kamu alami." Nabi SAW bersabda :   "Kerjakanlah dengan gigih apa yang bermamfaat bagi kalian dan mintalah pertolongan kepada Alloh untuk menuntaskannya, jangan kalian bersikap lemah. Jika suatu musibah menimpa diri kalian, janganlah kalian katakan; 'Seandainya aku lakukan itu, tentulah kejadiannya tidak demikian,' tetapi katakan-lah: 'Allah telah mentaqdirkan demikian dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi." Dalam sebuah Hadits Shahih disebutkan bahwa Rosululloh Sollollohu Alaihi wa Sallam bersabda : "Tidaklah Allah menetapkan suatu taqdir bagi seorang hamba, melainkan hal itu adalah yang terbaik baginya".

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang perbuatan maksiat : "Apakah hal itu baik bagi seorang hamba ?" Ibnu Taimiyah menjawab : "Ya, tetapi dengan syarat bahwa hamba yang bersangkutan mau menyesalinya, bertobat, memohon ampun, dan merasa bersalah." Alloh Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman : "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."(QS.2:216).

GUS AMIK

Kirim Komentar




Sebelumnya

ALUMNI PESANTREN AHLI PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN

Selanjutnya

RENUNGAN RAMADHAN: HUKUMAN YANG TIDAK TERASA