Isra' Mi'raj

Saat ini kita sedang dalam bulan keberkahan, bulan dimana perintah sholat diturunkan dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Sekian tahun perjalanan hidup kita jalani, khusyukkah sholat yang selama ini dilaksanakan? Kekhusukkan terletak dalam qalbu kita. Maka untuk menggapai shalat yang khusuk, kita mesti melihat dulu hati masuk dalam kategori yang mana? Apakah hati rindu kepada Allah ('Isyqiy) atau takut kepada Allah (Khauf)?

Dalam pemahaman tasauf, ada madzhab "CINTA", ialah orang yang mendekati Allah karena rasa cinta, kalau kita rindu Allah maka kita harus mencintai Allah, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah.

Ibnu Araby, membagi tiga jenis cinta, ada cinta yang sifatnya sangat natural, hewanpun memiliki cinta jenis ini, bagaikan cinta ayah pada anaknya, atau cinta pada orang yang telah berbuat baik pada kita. Cirinya adalah mementingkan diri sendiri, sangat subyektif, kita mencintai orang yang berbuat baik,karena kita telah diuntungkan, sehingga kalau cinta kita karena pamrih, maka cinta kita  tidak lebih dari cinta hewan.

Adapun cinta yang lain adalah yang tidak dimiliki oleh hewan, cinta supra natural, seperti cinta ibu pada anaknya tanpa pamrih. Sang ibu tidak berharap agar anaknya memberi keuntungan pada dirinya kelak ketika dewasa, tapi semata-mata keihlasan ibu untuk merawat anaknya.  Kepada Allah harus kita kembangkan cinta yang seperti ini.

Adapun cinta yang lain menurut Ibnu Araby, tidak bisa dibayangkan, ini adalah cinta Nabi Rosulullah SAW kepada kekasih Allah, inilah yang disebut " HUBB AL-ILAHI", hati yang tdk pernah melihat shalat sebagai kewajiban, tetapi sebagai "medium" untuk bertemu dengan Allah.

Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat adalah lahan nyawa dan cahaya matanya, maka ketika datang waktu sholat, Rasulullah ingatkan " Qurratu 'aini. Al shalah" (Cahaya mataku adalah sholat ).

Adapun ciri orang yg merindukan sholat , dia sering menunggu waktu sholat tiba, seperti orang yang senantiasa menantikan kedatangan kekasihnya, sholat menjadi ajang pertemuan yang sangat indah dengan kekasih, inilah yg disebut "Qolbun 'Isyqy", hati yg rindu.

Ciri rindu lainnya kepada Allah adalah ia perlu berkhalwat dan menumpahkan segala pendalaman jiwanya dengan shalat tahajud.

Abu said al kharaj, dalam kitab Al-Luma, menjelaskan bahwa shalat secara syariat adalah pengabdian, secara tarikat adalah keakraban, dan secara hakekat adalah penyatuan ke haribaan Tuhan, shalat dikatakan bermakna  apabila telah mampu membentuk pribadi yg positif, dan shalat yg khusu' akan meraih al-uns, yakni keintiman. Orang yg berhasil mengembangkan hati 'Isyqy, maka dia akan merasa  Intim dan sangat berbahagia dengan Allah"....GA

Kirim Komentar




Sebelumnya

ALUMNI PESANTREN AHLI PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN

Selanjutnya

RENUNGAN RAMADHAN: HUKUMAN YANG TIDAK TERASA