Wakil Rakyat

Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman dekat. Wakil rakyat dipilih bukan di lotre. Kalimat itu merupakan penggalan syair lagu Iwan Fals yang cukup populer. Meski lagu itu diciptakan saat orde baru, namun substansinya masih cukup relevan hingga kini. Sehingga tak salah jika banyak orang menyimpulkan kinerja dan tingkah polah anggota dewan seperti yang tercermin dalam lagu berjudul wakil rakyat itu.

Sayangnya, selama ini sedikit sekali yang memberikan penilaian positif terhadap wakil rakyat. Sebaliknya, justru banyak yang memiliki asumsi dan penilaian yang miring terhadap para anggota dewan. Baik ditingkat kabupaten, provinsi, maupun di pusat. Jika ditanya tentang anggota dewan, mayoritas jawabannya selalu seputar gaji yang tinggi, gaya hidup glamour, fasilitas wah, kekuasaan menekan sana menekan sini, dan kinerja yang tidak jelas.

Dari dua penilaian itu, saya termasuk golongan yang sedikit. Sebab, saya percaya lembaga dan anggota dewan pada prinsipnya memiliki peran dan fungsi yang cukup besar dalam mengelola pemerintahan. Juga terhadap upaya mensejahterakan masyarakat. Melalui fungsi aspirasi, legislasi, penganggaran, dan pengawasan, kami berkeyakinan dewan memiliki peran yang cukup vital dalam pembangunan di daerah. Fungsi aspirasi misalnya, memberikan ruang pada wakil rakyat untuk menyerap dan menampung kehendak rakyat. Dari aspirasi itu, para wakil rakyat memperjuangkannya melalui fungsi penganggaran saat penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan legislasi dalam penyusuran peraturan daerah. Selain itu, para wakil rakyat juga berhak melakukan pengawasan terhadap kinerja eksekutif untuk memastikan bahwa pemerintahan berjalan sesuai aspirasi rakyat.

Lantas sudahkah semua peran itu dilaksanakan wakil rakyat di Magetan? Jawabannya ada yang sudah dan ada juga yang belum. Yang sudah, tidak perlu dibahas karena itu sudah menjadi tugas dan kewajibannya. Kini, bersamaan dengan pelantikan anggota dewan periode 2014 – 2019 perlu kembali mengingatkan pekerjaan rumah apa anggota dewan mendatang. Kami yakin, semua masyarakat Magetan yang memilih maupun tidak memilih para anggota dewan yang hari ini dilantik memiliki harapan yang sama. Yakni terwujudnya Magetan yang maju, damai, dan sejahtera lahir maupun batin. Kami pun yakin, impian itulah yang dikampanyekan semua anggota dewan saat kampanye lalu.

Oleh sebab itu, pelantikan hari ini harusnya menjadi langkah awal dan bukan tujuan akhir bagi para wakil rakyat. Langkah awal untuk berjuang dan bekerja mewujudkan impian masyarakat. Juga langkah awal memenuhi janji-janji saat kampanye. Caranya, ya dengan memaksimalkan peran dan fungsi sebagai anggota dewan. Anggota dewan kini harus lebih peka terhadap aspirasi masyarakat tentang persoalan dan harapan yang mereka inginkan.

Misalnya tentang pengelolaan Sarangan yang sejak dulu hanya seperti itu-itu saja. Atau infrastruktur pedesaaan yang kondisinya masih memprihatinkan, biaya sekolah setingkat SMA yang masih mahal, atau petani yang kesulitan mendapatkan pupuk dan menjual hasil panennya. Juga fasilitas kesehatan yang masih kurang sehingga menyebabkan masyarakat lebih memilih berobat ke Madiun daripada di Magetan. Kami yakin masih banyak lagi daftar persoalan masyarakat yang butuh penyelesaian jika semua anggota dewan rajin terjun langsung dan menyerap aspirasi mereka.

Dari aspirasi itu, dewan juga harus konsisten memperjuangkannya dalam pembuatan kebijakan di pemerintah daerah. Misalnya saat proses penyusunan APBD maupun pembuatan raperda. Jangan sampai para wakil rakyat hanya peka dalam pembahasan anggaran yang menyangkut kepentingan mereka dan pura-pura lupa jika menyangkut kepentingan masyarakat. Agar hasil penyerapan aspirasi itu bisa berbuah tindakan konkret, maka dewan juga harus rajin menyusun peraturan daerah. Karena hanya dengan peraturan itulah kebijakan bisa diamankan dan direalisasikan.

Terakhir, karena anggota dewan adalah orang pilihan, orang hebat, maka sudah pasti akan menjadi panutan di masyarakat. Sebagai panutan, maka setiap gerak dan ucapnya selalu diperhatikan masyarakat. Oleh sebab itu, sudah seharusnya para wakil rakyat menunjukkan kualitasnya sebagai panutan. Ingat, lima tahun mendatang adalah momentum pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan rakyat. Bukankah setiap pemimpin pasti dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanya di dunia maupun di akhirat? Percayalah, sebaik-baik pemimpin adalah yang paling bermanfaat terhadap sesamanya. Wallahu alam bis showab.

GUS AMIK

Kirim Komentar




Sebelumnya

ALUMNI PESANTREN AHLI PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN

Selanjutnya

RENUNGAN RAMADHAN: HUKUMAN YANG TIDAK TERASA