ALUMNI PESANTREN AHLI PEMBANGUNAN DAN PERUBAHAN

Pesantren merupakan bagian besar dalam sistem pendidikan Indonesia. Total ada 27.230 pesantren di seluruh Indonesia. Mereka menampung 3.759.198 santri. Bila semua alumnus pesantren berakhlak mulia, pintar, dan punya soft skill jempolan, akan banyak permasalahan bangsa ini yang bisa diselesaikan.

Persoalan Bangsa dalam melaksanakan pembangunan cukup besar,  alumni pesantren  tentu tidak akan ketinggalan mengambil peran struktural atau fungsionalnya, karena pesantren selalu mengajarkan kemandirian terhadap kontinyuitas dan perubahan dalam memperbaiki keadaan. Hakekat keberhasilan penyelesaian ekonomi Bangsa ini harus selalu memahami adanya "Kontinyuitas dan Perubahan".
Artinya dalam lima tahun ke depan kita harus meneruskan semangat pertumbuhan yang tinggi. Ekonomi kita harus tumbuh di atas 6 persen pertahun. Mengapa ekonomi kita harus tumbuh tinggi? 


Pertama, 
kita yakin bisa melakukannya. Modal sudah kita miliki. Memang tahun ini ada gangguan mini krisis yang membuat rupiah  merosot, indek harga saham relatif anjlok dan pertumbuhan ekonomi  menurun. Namun kita yakin pemerintah akan mampu mengatasinya. Kita sudah belajar dari krisis tahun 2003,  juga belajar lagi dari krisis tahun 2008. Kita pun pasti mampu keluar dari krisis tahun ini.


Kedua, 
kita harus mengejar negara-negara maju. Sudah lama kita disepelekan dan dihinakan. Kita punya potensi untuk mrngejar negara maju. Kalau ekonomi  bisa tumbuh di atas 6 persen selama lima tahun berturut-turut GDP kita akan mencapai di atas 2.000 billion USD di akhir tahun 2019. Itu berarti kita sudah menjadi negara terbesar ke sembilan di dunia. Kita sudah mengalahkan Meksiko dan Spanyol.


Ketiga, 
kita masih punya pekerjaan amat besar yang hanya bisa dilakukan kalau ekonomi  tumbuh tinggi. Yakni mengatasi kemiskinan. Masih ada sekitar 30 juta rakyat yang sangat miskin,  juga masih punya sekitar 60 juta rakyat yang masih miskin. Ini pekerjaan besar yang tidak bisa diselesaikan dengan pidato, orasi atau  agitasi. Itu hanya bisa dilakukan dengan budaya  kerja.


Bersamaan dengan itu kita juga harus melakukan perubahan. Change. Belajar dari keadaan sekarang ini kita akhirnya tahu, setiap kali ekonomi kita proses tumbuh di atas 6 persen secara berturut-turut selama lima tahun, terjadilah mini krisis seperti ini. Impor kita tidak terbendung. Defisit neraca perdagangan tidak bisa dihindari. Maka perubahan mendasar harus dilakukan. Kita harus membuat ekonomi kita tumbuh tinggi tapi pertumbuhan itu harus solid. Bukan pertumbuhan yang rapuh. Untuk itu pengembangan industri dalam negeri, pertanian dan energi  tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan sekedar untuk jargon nasionalisme sempit tapi sudah menjadi keniscayaan.


Kita pernah hampir berhasil menjadikan  masyarakat pengusaha kita menjadi masyarakat industri di akhir pemerintahan Bapak Presiden Soeharto. Namun mega krisis di tahun 1998 membuat semuanya buyar. Industrialis kita yang masih di tahap awal itu kembali lagi menjadi masyarakat pedagang. Mereka memilih impor barang untuk diperdagangkan daripada membuatnya di pabrik mereka sendiri. Dengan berdagang mereka tidak merasa repot mengurus pabrik, buruh dan segala keruwetannya. Maka iklim serba impor mewarnai kehidupan kita. Akibat berikutnya SDM berkualitas kita tidak mendapatkan tempat untuk mengaktualisasikan dirinya.


Lima tahun ke depan adalah lima tahun yang sangat menantang. Yakni bagaimana mengajak masyarakat pedagang kita kembali ke masyarakat industri. Seluruh sektor harus bermuara pada terwujudnya masyarakat industri. Kita telah belajar banyak dari mini krisis ini, dan kita harus berubah. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kalau mau selamat, ternyata mengharuskan kita menguatkan kemandirian. Industri dalam negeri harus ikut maju. Strategi kemandirian bukan lagi hanya dalam arti nasionalisme sempit, tapi dalam makna yang lebih taktis. 


Kemandirian  bukan hanya kemandirian sebagai jargon tapi kemandirian untuk menopang pertumbuhan yang solid.  Termasuk di dalamnya pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan kebudayaan. Krisis ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa keasyikan dan kegairahan menumbuhkan ekonomi tidak boleh mengabaikan pembangunan SDM dan kebudayaan. Kita membutuhkan  pertumbuhan yang berkeseimbangan. Pertumbuhan yang solid. 


Pembangunan  SDM  harus diimplementasikan dalam bentuk memberikan peluang dan kesempatan. Membangun pendidikan dan SDM tanpa memberikan peluang dan kesempatan untuk mengimplementasikannya bukan hanya akan sia-sia bahkan akan menimbulkan rasa apatis, frustrasi dan kemudian destruksi. Pengembangan SDM dengan  pengembangan kebudayaan dan industri dalam negeri, termasuk industri kreatif seperti pariwisata, kuliner dan musik harus berjalan seiring. SDM yang bergairah, antusias dan kreatif akan dengan sendirinya menurunkan tensi ketegangan sosial di masyarakat. Inilah social capital yang amat penting  akan saling mengisi dengan financial capital. Dengan demikian maka pertumbuhan ekonomi  akan bisa dipertahankan tetap tinggi tanpa harus dibayangi terjadinya krisis ekonomi. Pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, pembangunan SDM, pembangunan kebudayaan, pemerataan akan berjalan seimbang menuju Indonesia yang besar, kuat, berkeadilan dan berkemakmuran.


Pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat memilki banyak yang keunggulan dalam meluluskan santri yang punya kemampuan khusus. Ahli organisasi ahli pertanian. Ahli keuangan. Ahli peternakan. Ahli elektronik. Dan ahli-ahli yang lain. Pada era AFTA dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berjalan saat ini, soft skill yang didapatkan alumni pesantren akan sangat penting bagi mereka dalam memenangkan persaingan. Jika hanya mengandalkan penguasaan akan pengetahuan, pesaing-pesaing dari negara tetangga yang sistem pendidikannya lebih baik mungkin akan sulit dilawan.


Soal serbuan tenaga kerja asing, pemerintah sebenarnya sudah menekankan pentingnya perbaikan pendidikan vokasi. Sebab, selama ini lulusan pendidikan vokasi kurang bisa bersinergi dengan dunia industri. Model pendidikan pesantren  telah melahirkan ribuan alumni yang  memiliki bekal sangat memadai untuk menghadapi era Afta dan MEA, misalnya :
1. Leadership
2. Public Speaking
3. Bahasa Asing
4. Project Management
5. Networking
6. Attitude
7. Rendah Hati
8. Openness
9. Kritis
10. Profesionalisme

Peluang yang besar bisa dimanfaatkan oleh network alumni pesantren adalah lebih memberdayakan UKM yang merupakan bagian penting dari perekonomian ASEAN. Sampai saat ini, 96 persen dari perusahaan ASEAN adalah UKM yang terdiri 50 persen sampai 95 persen menggunakan tenaga kerja dalam negeri; memberikan kontribusi 30 persen sampai 53 persen dari produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 19 persen sampai 31 persen dari ekspor. Sementara UKM Indonesia menyumbang 99,98 persen unit usaha di Indonesia, menyumbang 57 persen PDB nasional dan lebih dari 97 persen penyerapan tenaga kerja domestik. UKM kita selama ini banyak bergerak di sektor informal di pedesaan dan cenderung belum well inform.


UKM sendiri selama ini masih gagap menghadapi persaingan domestik dengan usaha menengah dan besar, namun sekarang tiba-tiba harus menghadapi sesama UKM dari semua negara ASEAN. Masalah kesiapan dalam menghadapi MEA bukan monopoli UKM kita. UKM negara lain juga menghadapi kondisi hal yang sama. Survei yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Asia dan Institut Studi Asia Tenggara 2015 menemukan bahwa kurang dari seperlima bisnis kawasan ASEAN yang siap menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. Ada sekitar 60% UKM tidak menyadari peluang di negara-negara ASEAN lainnya, baik mereka tidak menyadari apa itu MEA atau tidak menyadari peluang yang tersedia di negara-negara ASEAN. Kondisi serupa juga dialami oleh beberapa negara ASEAN lainnya. Myanmar, misalnya juga menghadapi kendala yang tidak jauh berbeda. Bahkan para pengusaha Myanmar sendiri mengaku belum siap untuk bergabung dalam pasar MEA. Artinya Indonesia bukan satu satunya negara ASEAN yang masih memerlukan persiapan lebih banyak.


UKM didorong untuk memiliki pola pikir yang kompetitif; terhubung ke target pasar; sesuai dengan standar internasional dan proses terbaik di kelasnya atau benchmarking; bersaing secara berkelanjutan; dan beradaptasi dengan praktik bisnis terbaik. Dalam menghadapi MEA, usaha kecil dan menengah (UKM) juga didesak untuk mampu berintegrasi dengan pasar bebas ASEAN (MEA) menjadi sebuah kesempatan untuk tumbuh. Masyarakat ekonomi ASEAN memberikan kesempatan bagi UKM untuk menjadi pemain utama di pasar ASEAN dan memungkinkan untuk terintegrasi dalam jaringan produksi regional dan rantai nilai global. Dengan kemampuan bersaing ini, UKM Indonesia akan mampu menjadi pemain regional dan global yang kompetitif dan meningkatkan produktivitasnya menghadapi pasar bebas ASEAN.


Persoalannya bukan bisa apa tidak bisa. Tapi mau apa tidak mau.

Kirim Komentar




Sebelumnya

RENUNGAN RAMADHAN: HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Selanjutnya

Tentang Ziarah Kubur?